MAMUJU, SUARASULBAR.ID— Pelestarian kain tradisional Sekomandi membutuhkan lebih dari sekadar pengenalan motif. Regenerasi pengetahuan, penguatan keterampilan, dan inovasi berbasis identitas budaya menjadi kunci keberlanjutan warisan budaya Sulawesi Barat.
Semangat tersebut diwujudkan melalui Program Sekomandi Revival bertajuk Pemberdayaan Remaja Kalumpang dalam Pewarisan dan Inovasi Kain Tradisional Sulawesi Barat 2026, yang berlangsung di Desa Tadui, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sabtu (24/10/2026).
Ketua Kelompok Ebenheser, Pdt. Alex Robi, menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga kesinambungan tradisi.
“Pelestarian Sekomandi tidak cukup hanya dengan memperkenalkan kainnya. Generasi muda perlu memahami nilai budaya, mempelajari proses pembuatannya, dan terlibat langsung dalam pewarisan tradisi agar identitas budaya ini tetap hidup di tengah perubahan zaman,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Program Sekomandi Revival, Adam Ramadhan, S.E., M.M., akademisi Universitas Muhammadiyah Mamuju (UNIMAJU), menempatkan kolaborasi sebagai aspek penting dalam pengembangan kebudayaan.
“ Pengetahuan lokal perlu didukung pendidikan, pendampingan, serta inovasi agar warisan budaya dapat berkembang tanpa kehilangan identitas dan nilai historisnya.” ucapnya.
Dari perspektif pemberdayaan, kegiatan ini juga menempatkan remaja sebagai subjek pewarisan budaya, bukan sekadar peserta.
Keterlibatan mereka diharapkan membangun kesadaran bahwa keberlanjutan tradisi bergantung pada proses belajar, pengalaman langsung, dan ruang untuk berinovasi secara bertanggung jawab.

Ismeralda, turut merepresentasikan pentingnya keterlibatan generasi muda.
“Generasi muda perlu mengenal dan menghargai budaya daerahnya sendiri. Dengan belajar dan terlibat langsung, kami dapat ikut menjaga kain Sekomandi agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Secara akademis, pewarisan budaya dan inovasi perlu berjalan beriringan. Pengembangan desain, promosi digital, serta produk kreatif dapat memperluas apresiasi dan membuka peluang ekonomi masyarakat.
Namun, seluruh proses tersebut perlu menghormati pengetahuan lokal, makna motif, dan peran komunitas sebagai pemilik serta pewaris tradisi.

Melalui Program Sekomandi Revival diharapkan menjadi bagian dari proses pelestarian berkelanjutan. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan, tetapi juga dari tumbuhnya kapasitas generasi muda dan keberlanjutan proses pewarisan budaya
Sekomandi bukan sekadar kain tradisional, melainkan representasi pengetahuan, identitas, dan ingatan budaya yang perlu dirawat melalui pendidikan, partisipasi masyarakat, dan inovasi yang bertanggung jawab.












