Suarasualbar.id MAMUJU– Masyarakat Desa Leling,Kecamatan Tommo,Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar),memberikan klarifikasi atas peristiwa aksi unjuk rasa penolakan proyek rekonstruksi jembatan Kabe.
Mantan Kepala Desa Leling Alimin mengatakan, aksi unjuk rasa itu memang Leling tapi bukan Desa Leling melainkan aksi warga Leling mewakili semua Desa Leling Dusun Kabe,Desa Leling Barat.
“Jadi yang melakukan aksi unjuk rasa itu masyarakat Dusun Kabe, Desa Leling Barat dengan menolak rekonstruksi jembatan tersebut,” ungkap Alimin saat dikonfirmasi wartawan.
Kendati demikian, apa yang dilakukan oleh massa aksi dari Dusun Kabe, Desa Leling Barat, itu juga sangat didukung oleh masyarakat Desa Leling dan Desa Leling utara
Namun juga memang Desa Leling menunggu konfirmasi dari keluarga di Leling Barat tapi kenyataannya tidak ada konfirmasi dari mereka dan memang sesuai surat penyampaian ke Polsek Tommo hanya butu massa 50 orang
“Tapi kami Desa Leling dan Leling Utara sangat mendukung aksi protes soal penolakan rekonstruksi jembatan Kabe itu. Walaupun tidak sempat turun aksi karena andai kata kami di undang keluarga disana insyaallah kami turun,” ujarnya.
Kata Alimin, mereka juga sangat ingin turun sampaikan aspirasinya untuk saling bahu membahu kejadian ini, tetap disayangkan karena sesuai penyampaian ke Polsek Tommo hanya butu 50 orang saja.
“Tetapi tidak menutup kemungkinan kalau tudak ada titik temu atau jalan keluar bisa jadi kami ikut serta yg atas nama Leling Raya yang bergerak dari warga Dusun Kabe itu mengajak warga Desa karena kami hari ini betul betul merasakan keterisolasian dalam pasca ambruknya jembatan Kabe.
Karana satu satunya akses kami keluar Desa Leling dan Desa Leling Utara dan juga Desa Leling barat,” ujarnya.
Mantan Desa Leling itu, berharap semua aspirasi yang disampaikan bisa keluarga dapat diserap untuk ada penanganan secara serius baik Pihak pemerintah maupun PT.MUL.
“Saya berharap semua aspirasi yang disampaikan bisa keluarga dapat diserap untuk ada penanganan secara serius baik Pihak pemerintah maupun PT.MUL (amanakarra Unggul Lestari),” harap Alimin saat dihubungi melalui pesan WhatsaAp, Rabu (11/24).
Dia menambahkan, aksi selanjutnya akan seluruh masyarakat Desa Leling bisa jadi akan bersama-sama turun melayangkan penolakan terhadap rekonstruksi jembatan itu ketika tidak di tinjau ulang analisis dampak lingkungan (Amdal) nya.
Karena mereka melihat rekonstruksi jembatan itu akan berdampak buruk pada lingkungan di Desa Leling Barat
Sehingga ia berharap, pemerintah daerah baik Kabupaten Mamuju dan Provinsi Sulbar hingga PT MUL bisa memberikan solusi yg terbaik dan Ramah Lingkungan terkait proses pembangunan jembatan di Dusun Kabe, Desa Leling barat.
Diberitakan sebelumnya, Masyarakat Desa Leling narat, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), melakukan aksi unjuk rasa di area proyek jembatan Kabe Desa Leling Barat yang baru saja ambruk usai diterjang banjir, Kamis (5/12/2024) dini hari lalu.
Masyarakat melakukan aksi protes terhadap proses pembangunan jembatan Kabe yang dinilai kurang bagus dan justru mengancam keselamatan warga sekitar.
Warga melayangkan protes karena proyek jembatan yang dikerjakan oleh PT Manakarra Unggul Lestari itu menggunakan enam tiang penyangga.
Enam tiang itu dianggap akan menjadi penyebab mendatangkan dampak buruk bagi lingkungan dan keselamatan warga.
“Dimana tiang-tiang penyangga ini menyerupai pagar di bawah air dapat menyumbat aliran sungai, apabila tiang-tiang penyangga tersebut disangkuti material keras seperti pepohonan yang sewaktu-waktu dapat melintas saat air sungai meluap,” ungkap Koordinator Lapangan (Korlap) Indra.












