Suarasulbar.id,MEDAN– Koprs HMI Wati (KOHATI) Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumatera Utara (Sumut), telah menuntaskan kegiatan Talk Show Sinergi Perempuan di Pas Bloc Medan, pada Jumat (30/8/2024) kemarin.
Kegiatan berantai ini melibatkan 13 Komunitas yang ada di Medan, Sumatera Utara (Sumatera) di antaranya Indonesia Membaca, Medan Membaca, Forum Indonesia Muda, FITRA Sumatera, Pos Bloc, Ngobrol Buku, Teater Rumah Mata, KOMPAK Sumut, Cerita Baik Foundation, The Neste, Rumah Baca Mandai, hingga SPAK.
Ketua Kohati Badko HMI Sumut Tutut Wijayanti, memberikan apresiasi kepada peserta dan komunitas yang ikut dalam mensukseskan kegiatan tersebut.
Karena kegiatan banyak dihadiri perempuan-perempuan Sumatera dan lebih khusus lagi aktivis perempuan di Kota Medan.
“Saya sangat bersyukur dan berbangga karena dari kegiatan Talk Show ini banyak inspirasi dan ilmu yang didapatkan dari narasumber. Dan juga bertukar pikiran soal ide dan gagasan,” kata Tutut Wijayanti kepada wartawan, Minggu (1/9/2024).
Desainer muda asal Medan ini menyebutkan, ada lima narasumber yang dihadirkan dalam Talk Show kali ini yakni Founder Women In The Future Siti Hawarina Simbolon, Politisi Perempuan Anggi Maisyarah, Enterpreuner dan Dosen Muda Rizafanny Meutia, Pegiat Komunitas Perempuan Hari Ini Annisah Octavi Sheren, dan Penyuluh Anti Korupsi SPAK Ar. Peranita Sagala.
Kelima narasumber yang hadir tersebut dari latar belakang yang berbeda-beda dan tentunya kapasitas keilmuan yang sangat luar biasa.
Tutut menuturkan, pada diskusi tersebut lebih fokus pada soal peran perempuan dalam melihat peluang dalam menghadapi era yang semakin berkembang dan begitu dinamis.
Kemudian, soal angka kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan yang menurut data Komnas mencapai 34.682 kasus sepanjang tahun 2024.
“Sehingga dengan gerakan atau kajian-kajian tentang perempuan merdeka ini menjadi langkah awal untuk bisa memberikan kesadaran bahwa perempuan harus bisa merdeka atas dirinya sendiri. Serta harus selalu merasa nyaman dalam beraktifitas dilingkungan manapun,” ujar Tutut Wijayanti.
Lanjut Tutut menjelaskan, dengan kegiatan ini setiap perempuan mampu memaknai kemerdekaan bagi negara maupun dirinya sendiri.
Karena perempuan itu istimewa dengan berbagai karir pilihannya. Hakikat merdeka adalah bebas memilih dan menjadi bermakna.
Menurutnya, era saat ini diharapkan perempuan dapat mengakses pendidikan setinggi tingginya , baik di dalam maupun di luar negeri.
Perempuan harus berani dan mampu menjadi versi terbaik dirinya, serta turut berkontribusi diberbagai lini sektor baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.
“Perempuan harus kreatif, karena dunia hari ini gagasan baru ditimpa dengan gagasan baru lagi, sehinggga saat ini dunia kreatif sangatlah dinamis, kita juga berharap saat ini sesama perempuan harus saling mendukung peran satu sama lain sesama perempuan,” tegasnya.
Aktivis perempuan ini menambahkan, harus dipercaya bahwa perempuan mampu menempati posisi-posisi strategis yang berdampak untuk perempuan lain, dan mampu menyuarakan untuk kepentingan perempuan lainnya.
Sudah banyak perempuan yang mendobrak status quo, dan membuka jalan dalam pendidikan, hak-hak sipil, sains, seni dan banyak lagi.
“Kerena itu sebagai perempuan seharusnya kita harus mengambil peran untuk saling mendukung sesama perempuan dan merdeka melalui karya,” Tutup Tutut Wijayanti.(*)












