Suarasulbar.id, Mamuju — Kisah inspiratif datang dari Desa Tamejarra, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Seorang ibu rumah tangga bernama Syahbannur yang juga berprofesi sebagai pedagang, muncul sebagai sosok teladan dalam upaya penanggulangan stunting. Terinspirasi dari program BKKBN “GENTING” (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) Berkalaborasi program Bupati Mamuju Taki Asuh Stunting, Syahbannur dengan sukarela menjadi orang tua asuh bagi baduta stunting dan Beresiko stunting di desanya.
Program GENTING sendiri merupakan inisiatif terpadu yang dicanangkan oleh pemerintah pusat dalam hal ini BkkbN untuk melibatkan lintas sektor dalam percepatan penurunan angka stunting. Meski awalnya ditujukan kepada lembaga pemerintah, swasta dan tokoh publik, langkah Ibu Syahbannur menjadi bukti bahwa masyarakat umum pun dapat berperan besar.
“ini adalah keinginan pribadi saya, tanpa paksaan, sebagai bentuk kepedulian saya terhadap Kesehatan anak. Apalagi ini didesa saya sendiri, hal ini juga sedekah, kalua kita suka bersedekah insyallah rezeki juga akan berlimpah. Selain itu saya terdorong dari langkah pak desa tamejarra yang lebih dulu menjadi orang tua asuh stunting. Ujar ibu syahbannur
Didampingi Penyuluh Kb dan kader TPK desa tamejarra, Sekali sebulan ibu Syahbannur menyisihkan sebagian rezekinya untuk membelikan bahan makanan mentah seperti telur, ayam, ikan, tempe, sayur-sayuran dan buah-buahan kepada seorang anak usia dibawah 2 tahun yang terindikasi stunting di desa tamejarra. Ia juga kerap mendampingi sang ibu balita ke posyandu dan memotivasi keluarga tersebut agar konsisten memberi asupan bergizi dan menjaga pola asuh.
Nantinya bahan makanan mentah yang diberikan akan diolah oleh orang tau sasaran. Dan diberikan kepada sasaran baduta
Menurut Penyuluh KB Desa Tamejarra. Apa yang dilakukan ibu syabannur patut di apresiasi. Karna ini murni Gerakan suka rela dan ke ikhlasan dalam memberikan bantuan.
“Apresiasi kepada ibu syabannur telah secara sukarela menjadi Orang Tua Asuh Stunting di program Genting ini, dan kami mengajak kepada seluruh elemen masyarakat yang memiliki harta yang lebih, bisa ikut terlibat menjadi orang tua asuh” Ujar Reskia Ningsi Penyuluh KB Desa Tamejarra.
Kisah Syahbannur mengajarkan bahwa menjadi pahlawan tidak selalu butuh jabatan atau sorotan. Cukup dengan hati yang peduli dan tindakan yang nyata, seseorang bisa membawa perubahan besar. Gerakan seperti ini bukan hanya mempercepat penanggulangan stunting, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong yang mulai pudar.












