Mamuju, Suarasulbar.id – Alfian Mansyur, pemuda asal Tapalang, Kabupaten Mamuju, sukses terpilih sebagai Duta Pemuda Sulawesi Barat (Sulbar) dalam program bergengsi Pertukaran Pemuda Antar Provinsi (PPAP) yang digagas oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Program ini menghadirkan perwakilan dari 35 provinsi di Indonesia, di mana setiap provinsi mengutus sepasang pemuda-pemudi. Alfian, yang akrab disapa Pian, ditempatkan di Bali, sementara rekannya dari Sulbar ditempatkan di Kalimantan Tengah.
“Kebetulan saya ditempatkan di Bali dan teman saya (perwakilan perempuan) di Kalimantan Tengah,” ujar Alfian.
Alfian menjelaskan, proses seleksi untuk program ini sangat kompetitif dan berjenjang. Dimulai dari seleksi di tingkat kabupaten yang kemudian mengusulkan pasangan ke tingkat provinsi. Setelah lolos di provinsi, seleksi berlanjut ke tingkat pusat.
“Di pusat itu hanya beberapa kabupaten (dari Sulbar) yang lolos, yaitu Pasangkayu, Majene, Polewali, Mamasa, dan Mamuju. Dan saya satu-satunya dari Mamuju,” terangnya.
“Alhamdulillah yang lolos (mewakili Sulbar) itu Kabupaten Mamuju yaitu saya, dan Kabupaten Pasangkayu untuk perempuannya,” tambah Alfian.
Tujuan utama dari PPAP, menurut Alfian, bukan hanya sekadar pertukaran budaya, tetapi lebih fokus pada peningkatan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) melalui lima domain utama.
“Tujuan pertukaran pemuda antar provinsi ini tentunya sebagai representasi provinsi untuk saling bertukar budaya, bertukar ide, dan gagasan,” katanya.
“Karena ada lima domain yang harus dipenuhi, yang berkaitan dengan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP). Di antaranya adalah pendidikan, kesehatan, kepemimpinan, gender, dan lapangan kerja. Itu harus kami bawa dan presentasikan,” papar Alfian.
Implementasi Program di Desa Sebatu, Bali
Selama di Bali, Alfian ditempatkan di Kabupaten Gianyar, tepatnya di Desa Sebatu, bersama perwakilan dari provinsi lain. Di sana, mereka diwajibkan merancang program yang dapat meningkatkan lima domain IPP di lokasi penempatan.
“Kami buat program di sana bekerja sama dengan unsur pemerintah desa, termasuk Puskesmas, dan (fokus pada) peningkatan UMKM serta kelompok-kelompok kepemudaannya,” jelasnya.
Timnya di Desa Sebatu memfokuskan program pada bidang kesehatan, literasi, pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi (lapangan kerja) dan budaya.
Alfian Mansyur, selaku Duta Pemuda Sulbar, turut membagikan observasi pentingnya selama di Bali. Ia melihat masalah utama di sana adalah sampah, namun hal itu tertangani dengan baik berkat tingginya kesadaran kolektif warga.
“Bagusnya di sana, masalah utamanya adalah terkait dengan sampah. Cuma hebatnya, mereka mampu menutupi itu sehingga tidak nampak, karena kesadaran warga di sana luar biasa,” ungkapnya.
Belajar dari pengalaman tersebut, Alfian berharap ada perbaikan di Sulawesi Barat, terutama dalam mengaktifkan organisasi kepemudaan di tingkat paling bawah.
“Saya berharap di Sulbar semua Karang Taruna di antar dusun wajib dibentuk dan harus aktif. Juga, support pemerintah sangat penting, karena di sana (Bali) pemerintah mereka itu sangat support dengan pemudanya,” pungkas Alfian.











