OPINI : Di Antara Alam yang Terluka dan Keringat Ayah yang Menghidupi

- Penulis

Sabtu, 13 Desember 2025 - 16:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini – Kami berangkat dengan langkah yang setengah yakin, setengah nekat. Hujan turun tanpa permisi, membasahi jalan tanah, sepatu, dan percakapan kami.

Ada empat tubuh yang bergerak, membawa lelah masing-masing. Salah satu dari kami yang baru saja mendaki langkahnya limbung, napasnya berat, seperti tubuhnya hendak menyerah lebih dulu daripada bukit.

Anehnya seolah langit sengaja memberi jeda bukan hanya untuk tubuh yang kelelahan, tapi juga untuk pikiran yang akan saling beradu.

Perjalanan itu penuh diskusi. Tentang hidup, tentang capek, tentang apa yang pantas dipertahankan dan apa yang seharusnya dilepaskan.

Lelah kami akhirnya terbayar di Pos Dua. Bukit itu menyuguhkan keindahan yang sunyi angin yang jujur, hijau yang tak berisik, dan pemandangan yang membuat semua keluhan terasa kecil. Kami tertawa, bercanda, dan merasa hidup sedang baik-baik saja.

Sampai pembicaraan itu datang, SAWIT. Temanku anggap saja namanya Baskara berbicara dengan suara tegas.

Baginya, sawit adalah luka. Ia menyebut kerusakan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, tanah yang dipaksa tunduk pada satu jenis tanaman, dan sungai yang kehilangan kejernihannya.

Baskara tidak setengah-setengah. Ia tidak sepakat. Tidak ada ruang tawar.

Aku terdiam lebih lama dari biasanyaKarena di kepalaku, sawit bukan hanya data dan grafik.

Sawit adalah dapur rumah kami yang tetap mengepul. Sawit adalah seragam sekolah yang terbeli tepat waktu.

Sawit adalah kehidupan orang tuaku
Sawit adalah UKT, Kos, buku-buku dan Almamater kami.

petani kecil yang bekerja dari pagi hingga senja, bukan perusak, hanya orang-orang yang ingin bertahan hidup dengan cara yang mereka tahu.

Aku sepakat, sawit bisa merusak.
Tapi aku juga tahu, sawit tidak selalu merusak jika ia ditanam dengan keseimbangan, dengan batas, dan dengan tanggung jawab.

Faktanya, kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati paling efisien di dunia.

Dengan lahan yang lebih kecil, sawit menghasilkan minyak jauh lebih banyak dibanding kedelai atau bunga matahari.

Artinya, jika dikelola dengan benar, sawit justru dapat mengurangi kebutuhan pembukaan lahan baru. Persoalannya bukan semata pada tanamannya, melainkan pada cara manusia mengelolanya.

Di Indonesia termasuk Sulawesi Barat lebih dari 40% kebun sawit dikelola oleh petani rakyat, bukan korporasi besar.

Bagi mereka, sawit bukan simbol keserakahan, melainkan alat bertahan hidup. Banyak keluarga menyekolahkan anak, membangun rumah, dan keluar dari kemiskinan ekstrem berkat sawit.

Di Pos Dua itu, di antara keindahan alam dan tawa yang mulai reda, aku sadar, Perdebatan kami bukan soal siapa yang benar.
Ini tentang dua mata yang berbeda.

Baskara mencintai hutan dengan keramahan yang tulus.
Aku mencintai alam, tapi juga orang tuaku dengan seluruh keterbatasan pilihan hidup mereka.

Mungkin yang kita butuhkan bukan penolakan mutlak, tapi keberanian untuk mengatur dengan adil.

Bukan meniadakan sawit, melainkan menertibkannya. Menjaga agar ia tidak rakus, tidak liar, tidak menghabiskan segalanya.

Bukit Sukun mengajarkan satu hal hari itu,
Alam tidak pernah meminta kita memilih satu dan membunuh yang lain.

Ia hanya meminta keseimbangan. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S Ar-rahman ayat 7-9.

Penulis : Baiq Sukma Widiawati (Pecinta Alam)

Berita Terkait

Jelang Open Tournament, FORKI Sulbar Gelar Penataran Wasit dan Juri
OPINI : Amanah Kekuasaan dan Ancaman Retaknya Persaudaraan
Besok, Muhammadiyah Mamuju Laksanakan Salat Id di Stadion Manakarra
Pengacara di Mamuju Berbagi Takjil, Cerita Lawyers Gelar Buka Puasa Bersama
Jamkrindo Mamuju Gelar Safari Ramadan, Salurkan Sembako untuk Warga Kurang Mampu
Sekolah Terhenti, Harapan Tak Mati
Saat AI Menguasai Informasi, Pers Diuji Menjaga Akal Publik
Warga Desa Bambu Kirim Dukungan Moril untuk Kades Hartono

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 20:05 WITA

Jelang Open Tournament, FORKI Sulbar Gelar Penataran Wasit dan Juri

Jumat, 3 April 2026 - 15:49 WITA

OPINI : Amanah Kekuasaan dan Ancaman Retaknya Persaudaraan

Kamis, 19 Maret 2026 - 12:22 WITA

Besok, Muhammadiyah Mamuju Laksanakan Salat Id di Stadion Manakarra

Jumat, 13 Maret 2026 - 18:42 WITA

Pengacara di Mamuju Berbagi Takjil, Cerita Lawyers Gelar Buka Puasa Bersama

Kamis, 26 Februari 2026 - 07:54 WITA

Jamkrindo Mamuju Gelar Safari Ramadan, Salurkan Sembako untuk Warga Kurang Mampu

Berita Terbaru

Politik

Muhammad Reza Tinjau Langsung Keluhan Warga Karema

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:06 WITA

Uncategorized

Iqbal Pulang ke Basis Perjuangan, Sapa Mahasiswa Mamuju di Jogja

Rabu, 6 Mei 2026 - 16:12 WITA