Suarasulbar.id, Mamuju – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat mencatat penurunan angka kemiskinan di provinsi tersebut pada Maret 2025. Meski jumlah penduduk miskin menurun secara total, tantangan baru muncul, kedalaman dan keparahan kemiskinan justru meningkat, terutama di wilayah pedesaan.
Plt Kepala BPS Sulbar, M. La’bi, dalam rilis resminya menjelaskan, persentase penduduk miskin di Sulawesi Barat pada Maret 2025 tercatat 10,41 persen, atau mengalami penurunan sebesar 0,30 persen poin dibandingkan periode September 2024 yang berada di angka 10,71 persen. Jika dihitung secara absolut, jumlah penduduk miskin turun sebanyak 3.600 orang, dari 155,91 ribu jiwa menjadi 152,31 ribu jiwa.
“Penurunan ini menunjukkan arah yang positif, namun bukan berarti masalah kemiskinan selesai. Justru tantangannya semakin dalam, terutama menyangkut kualitas kemiskinan di pedesaan,” kata La’bi.
Menariknya, data BPS justru mencatat bahwa di wilayah perkotaan, angka kemiskinan mengalami kenaikan dari 8,33 persen menjadi 8,35 persen. Sementara di wilayah perdesaan, terjadi penurunan dari 11,32 persen menjadi 10,94 persen.
Namun, meski jumlah penduduk miskin di pedesaan menurun, kedalaman dan keparahan kemiskinan justru meningkat.
BPS mengungkapkan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Sulbar pada Maret 2025 naik menjadi 1,71 dari sebelumnya 1,45. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pengeluaran warga miskin semakin jauh dari garis kemiskinan (GK), yang artinya dibutuhkan usaha lebih besar agar mereka bisa keluar dari status miskin.
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga naik, dari 0,30 menjadi 0,41, yang mencerminkan kesenjangan antar penduduk miskin semakin lebar. Ironisnya, dua indeks ini meningkat paling tajam justru di wilayah perdesaan.
“Kemiskinan memang berkurang secara kuantitas, tetapi warga yang tersisa di kelompok miskin berada dalam kondisi yang semakin sulit,” ujar La’bi.
BPS juga mencatat bahwa komoditi makanan masih menjadi beban terbesar bagi penduduk miskin, dengan kontribusi sebesar 78,04 persen terhadap garis kemiskinan. Komoditi yang paling besar menyumbang garis kemiskinan antara lain:
1. Beras
2. Rokok kretek filter
3. Ikan tongkol/tuna/cakalang
4. Kue basah
5. Telur ayam ras
Sementara dari sisi non-makanan, biaya perumahan, pendidikan, listrik, bensin, dan perlengkapan mandi menjadi beban paling berat bagi penduduk miskin, baik di kota maupun desa.
Penurunan angka kemiskinan turut didorong oleh pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat yang tumbuh 4,38 persen pada Triwulan I 2025. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi sumber utama pertumbuhan.
M. La’bi mengingatkan bahwa pengurangan jumlah penduduk miskin bukan satu-satunya indikator keberhasilan. Pemerintah daerah harus fokus pada pengentasan kemiskinan secara menyeluruh, termasuk mengurangi ketimpangan antarpenduduk miskin serta memastikan akses dan daya beli warga miskin semakin membaik.
“Kebijakan harus menyasar bukan hanya pada jumlah, tetapi juga kualitas hidup warga miskin yang masih bertahan di bawah garis kemiskinan,” pungkasnya.
Penulis : Muh Taufiq Hidayat












