Suarasulbar.id, Mamuju — Suasana pagi di lingkungan Kalubibing, Mamuju, terasa berbeda selama beberapa hari terakhir. Tawa anak-anak dan sapaan ramah para pemuda bersatu dalam berbagai aktivitas positif yang diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) KOMKELGER Universitas Wallacea tahun 2025.
Sebanyak enam orang mahasiswa diterjunkan langsung ke Kalubibing untuk melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat. Mereka adalah Dedi Suprianto sebagai Ketua, Rosyanti sebagai Sekretaris, Rina di posisi Bendahara, Riswana selaku Humas, Nurhalifah sebagai penanggung jawab konsumsi, dan Ince Rukmini yang mengurusi publikasi serta dokumentasi. Meski jumlahnya tak banyak, semangat kebersamaan mereka terasa besar di tengah warga.

Mengusung konsep pengabdian berbasis kesehatan keluarga dan lansia, program yang mereka jalankan bukan sekadar seremonial. Mulai dari observasi lingkungan, pendataan keluarga binaan, hingga aktivitas senam pagi yang dirangkaikan dengan bakti sosial, semua dirancang untuk memberikan manfaat langsung bagi warga.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika mereka mengajak anak-anak usia dini belajar cara menggosok gigi dengan benar. Dengan penuh kesabaran, para mahasiswa membimbing anak-anak, sembari menyisipkan canda dan hadiah kecil untuk menumbuhkan semangat menjaga kesehatan sejak dini.
“Kami ingin keberadaan kami di sini bukan hanya formalitas KKN. Tapi benar-benar menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat, mulai dari keluarga hingga generasi mudanya,” ungkap Dedi Suprianto, Ketua KKN KOMKELGER Universitas Wallacea.
Tak hanya itu, kegiatan bakti sosial bersama pemuda lingkungan Kalubibing turut mempererat silaturahmi. Semangat gotong royong yang semakin hari kian memudar, kembali terasa hangat di kampung ini.
Rosyanti, sang sekretaris, mengungkapkan harapannya agar apa yang mereka lakukan dapat berkelanjutan, bahkan setelah masa KKN mereka berakhir.
“Kalubibing bukan hanya tempat kami melaksanakan program, tapi telah menjadi bagian dari cerita perjuangan kami sebagai mahasiswa,” tuturnya.
Bagi masyarakat Kalubibing, kehadiran para mahasiswa ini bukan sekadar kunjungan biasa. Mereka hadir membawa energi baru, mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari anak-anak, orang tua, hingga para pemuda.
Sebuah contoh sederhana, bagaimana sinergi dunia pendidikan dan masyarakat bisa saling menguatkan untuk menuju kehidupan yang lebih baik.












