Bencana, Kedaulatan, dan Luka yang Tak Sejajar

- Penulis

Rabu, 24 Desember 2025 - 19:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini : Semoga kita tidak terjebak pada Perbandingan-perbandingan yang salah. “Kenapa banjir di Sumatra tidak jadi bencana nasional?”
“Aceh dulu langsung ditetapkan bencana nasional, kenapa sekarang tidak?”

Pertanyaan itu terus berulang di linimasa.
Di FYP, di beranda, di Reels Instagram.
Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan terasa adil. Tapi sering kali, ia lahir bukan dari upaya memahami, melainkan dari dorongan membandingkan satu dengan yg lain tanpa pijakan dan dasar argumen yang utuh. Simbol ini seolah menyalahkan pihak lain dan mendoeongnya ke jurang penuh duri lalu orang menyaksikannya.

Tulisan ini bukan pembelaan terhadap siapapun termasuk pemerintah.
Ini hanya upaya penulis untuk sedikit membuka perspektif kita semua tentang boom FYP dan reals IG yang mengiring pemikiran san pandangan kita tentang bencana. Apakah kedua bencana ini memang layak dibandingkan?

Alasannya bukan soal empati yang dipilah, melainkan soal skala, dampak, dan konsekuensi sejarah yang sangat berbeda.

Tsunami Aceh 2004 bukan sekadar bencana nasional. Ia adalah salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah dunia. Lebih dari 160 ribu jiwa meninggal. Pesisir pantai lenyap dari peta. Rumah, sekolah, rumah sakit, jalan, bandara semuanya rata dengan tanah.

Bahkan membandingkan tsunami Aceh dengan Palu pun sesungguhnya tidak sepenuhnya setara, apalagi membandingkannya dengan banjir Sumatra hari ini. Banjir Sumatra memang parah dan penderitaan korban tetap nyata tetapi ia tidak menyebabkan keruntuhan total sebuah wilayah dan sistem kehidupan sekaligus.

Empati tidak berkurang hanya karena kita menolak perbandingan yang keliru. Pada saat tsunami melanda, Aceh tidak memiliki komando daerah yang berfungsi.
Kantor bupati hilang.
Kantor wali kota lenyap.
Kantor gubernur tidak beroperasi.
Listrik mati total.
Komunikasi terputus.
Bandara lumpuh.
Jalur logistik terputus tanpa sisa.

Artinya tidak ada pemerintahan daerah yang bisa bekerja. Dalam kondisi seperti itu, negara tidak punya pilihan selain mengambil alih 100 persen penanganan.

Sementara di Sumatra hari ini, meski situasi berat, pemerintah daerah masih bekerja. Posko berjalan. Evakuasi dilakukan. TNI, Polri, BNPB turun membantu. Secara hukum dan administrasi, kondisi ini belum memenuhi syarat penetapan bencana nasional sebagaimana diatur dalam regulasi. Ini bukan soal peduli atau tidak peduli.
Ini soal mekanisme negara.

Status Bencana Nasional Membuka Pintu Bantuan Internasional dan Tidak Pernah Gratis.

Ada satu hal yang sering dilupakan
bantuan internasional tidak datang tanpa harga.

Pasca tsunami Aceh 2004, dunia datang. Bantuan mengalir dari berbagai negara, termasuk Australia. Namun sebelas tahun kemudian, pada 2015, bantuan itu diungkit kembali.

Perdana Menteri Australia saat itu, secara terbuka mengingatkan Indonesia tentang bantuan satu miliar dolar Australia pasca tsunami Aceh dengan harapan Indonesia mempertimbangkan pembatalan eksekusi mati dua terpidana narkotika asal Australia.

Di situlah kita belajar satu pelajaran pahit
bahwa bantuan asing, suatu hari, bisa berubah menjadi alat tekan, alat tawar, bahkan alat intervensi.

Tidak semua bantuan datang dengan niat yang suci selamanya. Inilah sebabnya hari ini negara sangat berhati-hati dalam menetapkan status bencana nasional. Bukan karena menolak solidaritas dunia, tetapi karena kedaulatan tidak bisa dibayar dengan rasa terima kasih abadi.

Bencana tidak pernah meminta untuk diperlombakan.
Dan luka tidak pernah minta untuk diadu.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya,
“Kenapa tidak seperti Aceh?”

Dan mulai bertanya,
“Apa yang bisa saya lakukan, di sini, sekarang?”

Karena pada akhirnya,
kemanusiaan tidak diukur dari status bencana,
melainkan dari cara kita menjaga martabat sesama tanpa terjebak dalam perbandingan yang salah.

Penulis : Penulis : Baiq Sukma Widiawati (Pegiat Literasi)

Berita Terkait

Dari Kelas hingga UMKM, Celebes Education Festival 2026 Rayakan Karya dan Kreasi Sulawesi
Apresiasi Pengabdian Guru, PT Mamuang Salurkan Insentif di Pasangkayu
FORKI Mamuju Borong Prestasi di Kejuaraan Karate Sulbar 2026, Raih Juara Umum III Open Tournament dan Juara I Festival
Waketum DPP Hanura Tekankan Konsolidasi dan Regenerasi Kader di Musda IV Sulbar
Saatnya UMKM Naik Kelas, Jamkrindo Buka Gerbang Besar Ekonomi Sulbar
Jelang Open Tournament, FORKI Sulbar Gelar Penataran Wasit dan Juri
Kursi Wagub Sulbar Kosong, Nama Jalaluddin dari PKS Mulai Muncul di Publik
OPINI : Amanah Kekuasaan dan Ancaman Retaknya Persaudaraan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 16:28 WITA

Dari Kelas hingga UMKM, Celebes Education Festival 2026 Rayakan Karya dan Kreasi Sulawesi

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:17 WITA

Apresiasi Pengabdian Guru, PT Mamuang Salurkan Insentif di Pasangkayu

Minggu, 24 Mei 2026 - 11:32 WITA

Waketum DPP Hanura Tekankan Konsolidasi dan Regenerasi Kader di Musda IV Sulbar

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:52 WITA

Saatnya UMKM Naik Kelas, Jamkrindo Buka Gerbang Besar Ekonomi Sulbar

Rabu, 29 April 2026 - 20:05 WITA

Jelang Open Tournament, FORKI Sulbar Gelar Penataran Wasit dan Juri

Berita Terbaru