Suarasulbar.id, Mamuju – Persoalan banjir yang tak kunjung tertangani dan nasib penyintas gempa yang belum mendapat bantuan stimulan menjadi sorotan dalam kunjungan kerja Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Munandar Wijaya, S.IP., M.AP., di Lingkungan Kalubibing, Kelurahan Mamunyu, Jumat (30/5/2025).

Reses yang berlangsung hangat itu menjadi ruang curhat warga atas persoalan yang selama ini tak kunjung terselesaikan, mulai dari banjir rutin saat hujan deras hingga kejelasan nasib mereka pasca bencana gempa bumi tahun 2021.
“Setiap hujan lebih dari tiga jam, wilayah ini pasti banjir. Air masuk ke rumah warga. Warga meminta penanganan talut sebagai solusi utama. Ini bukan lagi permintaan, tapi kebutuhan mendesak,” Ungkap Munandar saat diwawancarai usai mendengarkan keluhan warga.

Menanggapi hal itu, politisi Partai Amanat Nasional ini menyatakan komitmennya untuk membawa aspirasi tersebut ke meja pembahasan dalam APBD Perubahan bulan Juni mendatang.
“Saya akan dorong ini masuk dalam prioritas. Kalau tidak tertampung di APBD-P, kita perjuangkan lewat pokok-pokok pikiran dewan. Aspirasi ini sejalan dengan program visi misi gubernur, Pak SDK. Kita harus responsif,” ujarnya.
Tak hanya itu, keluhan lama soal stimulan gempa kembali mengemuka. Warga mengeluhkan belum adanya kejelasan realisasi bantuan dari pemerintah pusat meski bencana telah berlalu lebih dari tiga tahun.
“Memang hingga saat ini belum ada kejelasan konkret. Tapi di DPRD, kami tidak diam. Kami terus mendesak BNPB agar membantu pemerintah kabupaten mendorong kementerian terkait untuk segera menurunkan anggaran stimulan,” kata Munandar.
Ia juga mengakui bahwa sejumlah kendala administratif dan kondisi refocusing anggaran di tingkat pusat turut memperlambat proses tersebut.

Namun demikian, Munandar menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh abai terhadap hak-hak korban bencana.
Reses ini menjadi catatan penting bahwa masalah-masalah dasar warga, seperti infrastruktur penanganan banjir dan pemulihan pascabencana, harus segera ditindaklanjuti dengan langkah nyata.
Penulis : Muhammad Taufiq Hidayat












