Mamuju, Suarasulbar.id — Tidak ada bel sekolah yang berbunyi siang itu, tidak ada bangunan kelas yang berdiri kokoh, tidak ada kursi yang tersusun rapi, tidak ada meja tempat buku-buku dibuka, bahkan sebagian dari mereka tidak memiliki pensil untuk menulis.
Namun belasan anak itu tetap datang, mereka berjalan menyusuri jalan setapak, melewati kebun dan semak belukar, menuju sebuah tempat yang bagi mereka jauh lebih berharga daripada sekadar ruang belajar.

Di bawah rindangnya pohon-pohon sawit di Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, mereka berkumpul membawa satu hal yang tak pernah habis dimakan keadaan yaitu harapan.
Di atas tikar sederhana yang digelar di tanah, anak-anak itu duduk melingkar. Mata mereka tertuju kepada para relawan yang berdiri di depan. Sebagian hanya mendengarkan. Sebagian lainnya memperhatikan dengan sungguh-sungguh setiap kata yang disampaikan.
Bukan karena mereka malas mencatat, tetapi karena mereka memang tidak memiliki alat tulis.
Ada yang datang dengan buku yang halamannya tinggal beberapa lembar, ada yang menggunakan pensil pendek yang hampir tak bisa lagi digenggam, dan ada pula yang hanya membawa dirinya sendiri, menyimpan pelajaran di dalam ingatan karena tak memiliki apa pun untuk menuliskannya.

Namun tak satu pun dari mereka mengeluh, tak satu pun memilih pulang, tak satu pun menyerah.
Di tempat yang mungkin luput dari perhatian banyak orang itu, mereka sedang melakukan sesuatu yang luar biasa, mempertahankan mimpi.
Pohon-pohon sawit menjadi atap mereka, tanah menjadi lantai mereka, langit menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
Dan para relawan muda dari Komunitas Anak Manakarra (KOMARA) menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan masa depan.
Setiap pekan, Relawan Desa Mengajar datang bukan membawa kemewahan. Mereka hanya membawa buku-buku sederhana, pengetahuan, dan kepedulian.
Tetapi sering kali, hal-hal sederhana itulah yang mampu mengubah kehidupan seseorang.
Salah satu Relawan Desa Mengajar, Saharuddin Nasrun, mengaku masih sulit melupakan pertemuan-pertemuan awal bersama anak-anak tersebut.
Ia melihat semangat yang tak biasa, semangat yang bahkan kadang membuat orang dewasa merasa malu.
“Kami tidak memiliki ruang belajar. Ketika hujan turun, kegiatan terpaksa berhenti. Anak-anak belajar di bawah pohon sawit, dan sebagian datang tanpa alat tulis. Tetapi mereka tetap hadir. Mereka tetap ingin belajar. Mereka tetap ingin tahu tentang dunia yang lebih luas. Semangat itulah yang membuat kami terus bertahan sampai hari ini,” ujar Saharuddin.
Menurutnya, ada anak-anak yang harus berjalan cukup jauh untuk tiba di lokasi belajar, ada yang datang dengan sandal yang mulai usang, ada yang datang hanya dengan membawa satu buku yang dipakai untuk semua mata pelajaran, namun mereka datang dengan mata yang penuh cahaya, cahaya yang bernama cita-cita.
“Kadang kami merasa malu ketika melihat mereka. Dalam kondisi yang serba terbatas, mereka masih memiliki semangat luar biasa untuk belajar. Mereka mengajarkan kepada kami bahwa pendidikan bukan soal fasilitas semata, tetapi soal kemauan untuk terus tumbuh dan bermimpi,” katanya.

Maka ketika Ahad, 7 Juni 2026, Anggota DPRD Sulawesi Barat Khalil Gibran bersama Dirbinmas Polda Sulbar Kombes Pol Prasetya Sejati, S.I.K., dan Kabiddokkes Polda Sulbar Kombes Pol dr. Effri Susanto, M.M., datang mengunjungi mereka, suasana siang itu terasa berbeda.
Bukan karena tamu yang datang membawa jabatan, melainkan karena anak-anak itu merasa perjuangan mereka akhirnya dilihat, mereka merasa suara mereka didengar, dan untuk pertama kalinya, ruang belajar sederhana di bawah pohon sawit itu menjadi pusat perhatian.
Khalil Gibran tampak terdiam beberapa saat memperhatikan anak-anak yang duduk di atas tanah, di hadapannya bukan sekadar anak-anak desa, di hadapannya adalah generasi masa depan yang sedang berjuang melawan keterbatasan.
“Saya sangat terharu melihat mereka. Di saat sebagian anak-anak di tempat lain memiliki fasilitas yang lengkap, anak-anak di sini tetap belajar meski tanpa ruang kelas dan perlengkapan yang memadai. Tetapi justru dari sini saya melihat sesuatu yang sangat mahal, yaitu semangat dan keteguhan hati untuk meraih masa depan,” ujarnya.

Hari itu, bantuan berupa papan tulis, spidol, dan penghapus diserahkan kepada Relawan Desa Mengajar.
Nilainya mungkin tidak besar, tetapi maknanya jauh melampaui angka, karena bagi anak-anak yang selama ini belajar dengan keterbatasan, bantuan itu adalah pesan bahwa mereka tidak sendiri.
Bahwa ada orang-orang yang peduli, bahwa ada tangan-tangan yang siap membantu mereka menjaga mimpi tetap hidup.

Menjelang senja, anak-anak itu berkumpul di sekitar papan tulis baru.
Mereka saling berebut menuliskan nama.
Ada yang menulis cita-citanya menjadi dokter.
Ada yang menulis ingin menjadi polisi.
Ada yang menulis ingin menjadi guru.
Tulisan mereka mungkin masih sederhana.
Sebagian huruf masih terbalik.
Sebagian kata masih salah eja.
Tetapi mimpi yang mereka tuliskan jauh lebih besar daripada papan tulis itu sendiri.

Dan ketika matahari perlahan tenggelam di balik deretan pohon sawit, anak-anak itu pulang membawa sesuatu yang tidak terlihat oleh mata.
Bukan papan tulis.
Bukan spidol.
Bukan pula penghapus.
Melainkan keyakinan bahwa suatu hari nanti, mimpi-mimpi mereka bisa menjadi kenyataan.
Sebab sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa orang-orang besar tidak selalu lahir dari tempat yang besar.
Terkadang, mereka lahir dari sebuah desa kecil.
Dari ruang belajar tanpa dinding.
Dari anak-anak yang tak memiliki alat tulis.
Dan dari mimpi yang dijaga dengan penuh keteguhan di bawah rindangnya pohon sawit.












