Demo Tolak Tambang Berujung Ricuh, Polisi & Massa Saling Dorong, Massa Kecewa pada Gubernur Sulbar

- Penulis

Jumat, 9 Mei 2025 - 19:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarasulbar.id, Mamuju – Ratusan massa dari aliansi masyarakat Sulawesi Barat (Sulbar) penolak tambang pasir melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulbar, Jumat (9/5/).

Para pengunjuk rasa ini sempat melakukan aksi saling dorong dengan aparat kepolisian.

Aksi keributan itu terjadi di saat massa berusaha menerobos masuk kedalam kantor Gubernur Sulbar di Jl Abdul Malik Pattana Endeng, Kecamatan Simboro, Mamuju.

Awalnya demonstrasi yang berlangsung sejak pukul 14.00 Wita itu berlangsung damai dan tertib.

Bahkan Gubernur Sulbar Suhardi Duka sempat menemui massa aksi untuk menjawab aspirasi dari penolakan kehadiran tambandi Kecamatan Kalukku dan Kecamatan Karossa.

Namun, para massa aksi tidak menerima aspirasi tersebut lantaran warga atau perwakilan massa tidak diberikan kesempatan untuk melakukan tanya jawab.

Setelah SDK berbicara soal ketegasan ingin mengavulasi izin tambang di wilayah Sulbar, dia pun langsung meninggalkan massa aksi.

Gejolak kemarahan pengunjuk rasa pun memuncak di saat SDK tidak memberikan kesempatan untuk berdialog.

Para massa aksi pun kembali, berorasi secara bergantian menyampaikan aspirasi soal keberadaan tambang di daerah mereka yang dinilai mengancam lingkungan dan ruang hidup masyarakat setempat.

Kemudian sekitar pukul 16.00 Wita sore massa aksi mulai ricuh hingga terjadi aksi saling dorong dengan aparat pengamanan.

Terlihat sejumlah massa aksi dengan polisi terlibat saling dorong. Massa aksi bahkan mundur saat terus memaksa menerobos.

Koordintaor Lapangan Aliansi Masyarakat Sulnar Zulkarnaim menyatakan, rasa kekecawaannya terhadap Gubernur Sulbar karena tidak ada respon.

“Kami cuman datang dicermai, tidak ada respon (Gubernur Sulbar). Baru bapak (SDK) pulang. Sungguh kami sangat kecewa besar sekali,” kata Zul kepada wartawan.

Kata dia, permintaan masyarakat itu ada kekuatan hukum yang mengikat atau surat pernyataan dari pemerintah untuk mencabut izin pertambangan di Karossa dan Kalukku.

“Kami meminta itu berkekuatan hukum, dalam artian ada surat fisik yang kami bawa pulang, tujuanya untuk apa supaya menghentikan segala macam bentuk aktivitas pertambangan di Kalukku dan Karossa,” tegasnya.

Zul mengkhawatirkan, jika ini berlarut maka akan menimbulkan konflik horizontal di wilayahnya. Jika terjadi lantas siapa akan bertanggung jawab.
“Baku hantam ‘bunuh-bunuh’ warga di bawa Pak, kalau tidak ada hukum yang mengikat. Siapa akan bertanggung jawab kalau itu terjadi,” pungkasnya. (Tfq)

Berita Terkait

PKS Resmi Usulkan Jalaluddin Syam, Perebutan Wagub Sulbar Dimulai
Inisial R Disorot, BK DPRD Sulbar Tegaskan Tak Akan Gegabah Proses Laporan
Jalaluddin, Putra Tanah Mandar yang Disebut-sebut Layak Mengisi Kursi Wagub Sulbar
Kursi Wagub Sulbar Kosong, Nama Jalaluddin dari PKS Mulai Muncul di Publik
Ray Akbar, Pemblokiran ASN Bukti Kepemimpinan Gagap
KKMSB Kaltim Salurkan Bantuan kepada Penyintas Kebakaran di Kampung Tulu Polman
Besok, Muhammadiyah Mamuju Laksanakan Salat Id di Stadion Manakarra
Pengacara di Mamuju Berbagi Takjil, Cerita Lawyers Gelar Buka Puasa Bersama

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 05:58 WITA

PKS Resmi Usulkan Jalaluddin Syam, Perebutan Wagub Sulbar Dimulai

Rabu, 15 April 2026 - 10:13 WITA

Inisial R Disorot, BK DPRD Sulbar Tegaskan Tak Akan Gegabah Proses Laporan

Jumat, 10 April 2026 - 12:50 WITA

Jalaluddin, Putra Tanah Mandar yang Disebut-sebut Layak Mengisi Kursi Wagub Sulbar

Jumat, 10 April 2026 - 12:48 WITA

Kursi Wagub Sulbar Kosong, Nama Jalaluddin dari PKS Mulai Muncul di Publik

Jumat, 3 April 2026 - 05:49 WITA

Ray Akbar, Pemblokiran ASN Bukti Kepemimpinan Gagap

Berita Terbaru