Jejak Botteng di Mamuju, Warisan yang Terlupakan, Kini Dibangkitkan

- Penulis

Senin, 26 Mei 2025 - 23:38 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suarasulbar.id, Mamuju — Di balik tenangnya wajah Kota Mamuju hari ini, tersimpan jejak sejarah panjang yang nyaris terlupakan. Salah satu kisah penting yang jarang diangkat adalah kehadiran Botteng, sebuah kekuatan adat dari wilayah Pitu Ulunna Salu (PUS) yang menjadi bagian vital dalam menyelamatkan Kerajaan Mamuju dari kekacauan sekitar pertengahan abad ke-18.

Diperkirakan sekitar pertengahan abad ke-18, saat Belanda mulai menancapkan kuku kolonialismenya di Sulawesi Barat, Kerajaan Mamuju berada dalam masa-masa paling kelam. Maradika Pue Tonileo, raja Mamuju saat itu, tiba-tiba meninggalkan tahtanya. Tidak ada kabar ke mana ia pergi, atau mengapa ia meninggalkan kerajaan. Ia lenyap begitu saja, meninggalkan kekuasaan dalam kekosongan yang menakutkan.

“Kejadian ini menciptakan trauma besar. Setiap orang yang dilantik sebagai raja selalu meninggal secara misterius. Dilantik pagi, malamnya mati. Dilantik sore, paginya wafat. Ini bukan sekadar mitos, ini kepercayaan yang tertanam kuat dalam ingatan kolektif orang Mamuju,” jelas Tahidaya Daeng Camma’, sejarawan asal Mamuju yang telah meneliti narasi tutur ini selama lebih dari satu dekade.

Kondisi itu membuat siapa pun enggan menerima jabatan sebagai raja. Pa’bicara atau penasehat kerajaan pada waktu itu pun akhirnya menghadap ke Balanipa, pusat pemerintahan Pitu Babana Binanga (PBB), memohon agar dikirimkan pemimpin untuk mengisi kekosongan di kerajaan Mamuju yang nyaris tak ada mau sebagai Maradika (Raja). Maka diadakanlah sebuah Musyawarah adat di Pitu Babana Binanga.

Hasil musyawarah adat di PBB melahirkan satu nama, Pummarica, bangsawan dari kerajaan itu bersedia menjadi Maradika Mamuju. Namun, ia mengajukan satu syarat penting.

“Saya tidak akan pergi sendiri. Saya hanya mau ke Mamuju jika ditemani oleh kekuatan dari Pitu Ulunna Salu,” begitu pesan Maradika Pummarica yang dikisahkan secara turun-temurun.

Utusan Balanipa pun segera mendaki ke Rante Bulahan, Pusat adat PUS yang bergelar Muane Ada’. Rante Bulahan lalu menggelar musyawarah besar. Hasilnya, tiga daerah adat menyatakan kesiapan turun ke Mamuju untuk mendampingi Pummarica.

Botteng, dipimpin oleh Tomakaka Puanna Paoke.

Salu Banua, pemimpinnya tidak disebut dalam catatan tutur.

Pamoseang, juga tidak disebutkan nama pemimpinnya.

Ketiganya sebagai Bali Ada’, perwakilan adat dari PUS, dan membawa misi penting, memulihkan ketertiban dan mengembalikan kewibawaan Maradika Mamuju.

Sebelum berangkat, mereka memperkenalkan kemampuan masing-masing. Puanna Paoke Tomakaka dari Botteng menegaskan. “Saya memiliki kekuatan dalam hal menembak. Jika saya menembak dari depan pastilah mati, apalagi dari arah belakang.”

Salu Banua mengaku kebal senjata tajam, “saya mampu bertempur tujuh hari tujuh malam tanpa celaka.”

Sementara Pamoseang, dengan tenang menyatakan bahwa “jika dua yang lain gagal, ia pasti bisa.” Strategi dan kecerdasannya adalah senjata utama.

“Ini bukan dongeng. Ini adalah simbol bahwa ketiga kekuatan ini memiliki keunikan, kekuatan fisik, pertahanan, dan kecerdasan. Sebuah kombinasi ideal untuk memulihkan Kerajaan,” ujar Tahidaya Daeng Camma’.

Sebelum berangkat, Puanna Paoke sempat meminta dilantik sebagai Tomakaka (Raja) Botteng oleh PUS permintaan itu dikabulkan. Maka, berdirilah Kerajaan Botteng secara adat dan politik, bahkan sebelum mereka menginjak tanah Mamuju.

Saat ketiganya tiba di Mamuju dan bergabung dengan Pummarica, mereka segera menumpas kekacauan. Dalam waktu singkat, kerajaan kembali stabil. Sebagai penghormatan, ketiganya diberikan tanah adat di wilayah Mamuju.

Namun, jauh lebih penting dari pemberian itu adalah perjanjian adat yang mereka ikat disebut “Talli”.

Perjanjian Antara Raja Mamuju dan Tomakaka Botteng

yang di pimpin oleh Daeng marrakka sambolangi,na pitu ulunna salu muanena diada indo kada nene

“Dio Tomakaka BOTTENG Bassi matadannako PITU ULUNNA SALU Pa’baraninako puangna kondo Sapata, merrabukko di Mamunyu massirannuakko Maradia Mamunyu. Sikotonang Ko diada sikappikko dirupa tau. Simbaju ko mettaddang. Sippappakko mettoko, meletteng sau tullu tammala ruppu. meletteng dai tullo tammala ruppu. mesoko memmata di Saha mesako memmata di mengngihang. Ballo popo Liu Sau’ ballo Kerurrung Liu dai”

yang bermaksud

“Tidak ada yang dikatakan bawahan dan atasan, berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Satu matanya ke laut, satu matanya ke gunung. Jika ada musuh dari laut, Mamuju yang menghadapi. Jika dari gunung, Botteng yang maju. Tidak ada saling membawahi.”

Perjanjian ini adalah simbol kesetaraan dan solidaritas antar daerah adat, yang menjadi fondasi damai di masa itu.

Namun, sebagaimana halnya sejarah kekuasaan, kesenjangan dan rasa diabaikan mulai muncul. Tomakaka Puanna Paoke merasa tidak lagi dihormati sebagaimana awal perjanjian. Maka, ia kembali ke PUS sebuah keputusan besar yang mengejutkan Mamuju.

Maradika Pummarica khawatir jika kepergian Botteng memicu kekacauan baru. Ia lalu mengirim utusan ke Botteng untuk memohon agar kembali. Maka Tomakaka Puanna Paoke kembali, namun disaat perjalanan menuju Mamuju itu terlintas dibenah Puanna Paoke untuk menghentikan laju langkahnya. Sebagai solusi, ia menunjuk iparnya Puakkarua, suami dari saudari perempuannya untuk menggantikannya. Meski awalnya menolak karena bukan pemimpin, Puakkarua akhirnya dilantik sebagai Tomakaka Botteng kedua oleh Tomakaka Puanna Paoke, dan kembali ke Mamuju untuk menjaga warisan Botteng.

“Kita tidak bisa pungkiri, keberadaan Botteng di Mamuju hingga hari ini adalah bukti nyata dari kesepakatan leluhur. Eksistensi Maradika Mamuju sampai hari ini tidak lepas dari Botteng yang memperkuat keberadaannya. Mereka datang bukan sebagai bawahan, tapi sebagai penjaga perdamaian dan marwah adat,” tegas Tahidaya Daeng Camma’.

Kisah ini adalah pengingat bahwa sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta, kadang ia hidup dalam tutur lisan, dalam adat yang dijaga, dan dalam tanah yang dipijak. Botteng bukan sekadar wilayah. Ia adalah jejak kesetaraan, pengorbanan, dan persaudaraan adat yang pernah menyelamatkan Mamuju dari kehancuran.

“Kita perlu menghidupkan kembali kisah-kisah seperti ini. Ini adalah akar dari siapa kita. Sejarah Botteng adalah sejarah Mamuju juga. Ini bukan cerita pinggiran ini adalah nadi pusat,” tutup Tahidaya Daeng Camma’.

Penulis : Muhammad Taufiq Hidayat

Berita Terkait

OPINI : Amanah Kekuasaan dan Ancaman Retaknya Persaudaraan
Besok, Muhammadiyah Mamuju Laksanakan Salat Id di Stadion Manakarra
Pengacara di Mamuju Berbagi Takjil, Cerita Lawyers Gelar Buka Puasa Bersama
Jamkrindo Mamuju Gelar Safari Ramadan, Salurkan Sembako untuk Warga Kurang Mampu
Sekolah Terhenti, Harapan Tak Mati
Saat AI Menguasai Informasi, Pers Diuji Menjaga Akal Publik
Warga Desa Bambu Kirim Dukungan Moril untuk Kades Hartono
BRI Nyatakan Tanggung Jawab Penuh atas Hilangnya Dokumen Nasabah Pascagempa 2021

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 15:49 WITA

OPINI : Amanah Kekuasaan dan Ancaman Retaknya Persaudaraan

Kamis, 19 Maret 2026 - 12:22 WITA

Besok, Muhammadiyah Mamuju Laksanakan Salat Id di Stadion Manakarra

Jumat, 13 Maret 2026 - 18:42 WITA

Pengacara di Mamuju Berbagi Takjil, Cerita Lawyers Gelar Buka Puasa Bersama

Kamis, 26 Februari 2026 - 07:54 WITA

Jamkrindo Mamuju Gelar Safari Ramadan, Salurkan Sembako untuk Warga Kurang Mampu

Senin, 9 Februari 2026 - 21:31 WITA

Sekolah Terhenti, Harapan Tak Mati

Berita Terbaru

Taki Belanja Bijak Di Bulan Ramadhan