Suarasulbar.id, Opini – Wahai engkau yang memegang amanah di puncak lembaga, dengarkanlah suara yang lahir bukan dari kebencian, tetapi dari kecintaan pada keutuhan dan martabat manusia.
Sesungguhnya kekuasaan bukanlah mahkota yang abadi, melainkan titipan yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Mengetahui isi hati dan gerak langkah. Maka janganlah engkau jadikan ia sebagai alat untuk menanam benih perpecahan, terlebih di tanah Mandar yang disatukan oleh adat, iman, dan sejarah panjang pengorbanan.
Ketahuilah, memecah belah dari dalam adalah jalan sunyi yang tampak halus, namun menghancurkan seperti rayap yang menggerogoti tiang rumah hingga roboh tanpa suara. Ia bukan tanda kecerdasan, melainkan tanda ketidakadilan yang diselimuti kepentingan.
Orang Mandar tidak berdiri karena kekuatan satu orang, tetapi karena persatuan banyak hati. Jika engkau mencoba mengoyaknya, maka yang engkau hadapi bukan sekadar individu, melainkan warisan nilai yang dijaga turun-temurun.
Berhentilah sebelum langkahmu menjauh dari keadilan. Kembalilah pada jalan yang lurus, di mana kebijakan menjadi pelindung, bukan alat pemecah; di mana jabatan menjadi pengikat persaudaraan, bukan pemantik permusuhan.
Sebab sejarah mencatat dengan jujur, dan waktu tidak pernah berpihak pada kezaliman.
Maka ambillah peringatan ini sebagai nasihat yang jernih:
jangan jadikan kekuasaan sebagai sebab retaknya persaudaraan, karena bila persatuan itu runtuh, engkau tidak hanya kehilangan kepercayaan, tetapi juga kehormatan yang tak dapat dibeli kembali.
Penulis : Ray Akbar Ramadhan
Sumber Berita : Opini











