Mamuju, Suarasulbar.id — Seorang mahasiswa asal Mamuju menjadi korban pengeroyokan di sekretariat Vendetta, organisasi pelajar dan mahasiswa asal Mamuju, pada Jumat malam, (16/1/26), sekitar pukul 23.00 WITA. Peristiwa tersebut kini resmi ditangani aparat kepolisian setelah korban melaporkan kejadian itu ke Polresta Mamuju.
Berdasarkan Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) Nomor: STTLP/B/20/I/2026/SPKT/Resta Mamuju, Provinsi Sulawesi barat, korban bernama A Alfrian (23), mahasiswa, warga BTN Pantai Indah Simboro, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju, melaporkan dugaan tindak pidana pengeroyokan yang terjadi di Jalan Dahlia VII, Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju.
Menurut A.Alfrian setelah dirinya mengantarkan seorang perempuan ke sekretariat Vendetta, ia di panggil oleh salah seorang yang diduga mahasiswa dan juga anggota organisasi, ia sempat ditanyai dan serta di ancam untuk dipukul
“Awalnya saya ditanya tanya tengtang hubungan kami, namun saya jelaskan bahwa saya pacaran selama 5 bulan, namun singkat cerita dia mengancam saya dengan kata kalau ada apa apai ini saya pukulko itu, saya jawab tidak ji, aman ji kak” ucapnya saat di wawancarai media ini, Sabtu (17/1/2026).

A.alfrian menambahkan setelah dirinya berkomunikasi singkat oleh salah satu mahasiswa tersebut, ia langsung pergi namun beberapa saat kemudian ia kembali bercekcok sehingga Alfrian memutuskan untuk pulang kerumah, namun saat di motor dirinya dikeroyok
“Waktu saya di motor, paska mau kasih nyala motorku untuk pulang saya langsung di pukul saudara Alif, dan waktu itu saya langsung di keroyok oleh beberapa orang” tegasnya
ia juga membantah bahwa dirinya membawa sebilah badik kesekret Vendetta, ia hanya ingin mengantar perempuan yang diduga kekasih korban, atas permintaan perempuan tersebut.
Namun menurut ibu korban, Irma Suryani, peristiwa itu baru diketahui keluarga setelah korban pulang ke rumah dalam kondisi terluka dan menangis.
“Saya kira awalnya kecelakaan. Tapi setelah saya lihat tangannya luka, anak saya bilang dia dikeroyok,” ujar Irma saat memberikan keterangan.
Irma menjelaskan, sebelum kejadian, korban bersama beberapa rekannya sempat nongkrong di pantai. Korban kemudian diminta mengantar seorang perempuan ke sekretariat yang disebut sebagai sekretariat Vendetta dimana kakanya seorang diduga aktivis vendetta. Setibanya di lokasi tersebut, korban diduga justru mengalami pengeroyokan oleh sejumlah orang.
Usai kejadian, keluarga sempat berniat membawa korban berobat. Namun atas pertimbangan keluarga besar, korban akhirnya diarahkan untuk segera melapor ke kepolisian guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Situasi sempat memanas karena adanya upaya dari pihak tertentu untuk menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan dan meminta agar kasus tidak dibawa ke ranah hukum. Namun keluarga korban bersikeras menempuh jalur hukum.
“Kami merasa terancam. Banyak orang datang bergerombol. Anak saya ketakutan dan minta polisi segera datang,” ungkap Irma.
Polisi akhirnya mendatangi lokasi setelah menerima laporan dan mengamankan situasi guna mencegah terjadinya bentrokan lanjutan.
Sementara itu, Kasi Humas Polresta Mamuju, IPTU Herman Basir, membenarkan bahwa laporan dugaan pengeroyokan tersebut telah resmi diterima.
“Benar, laporan sudah masuk di Polresta Mamuju dan saat ini sedang dalam proses penanganan oleh penyidik,” kata IPTU Herman Basir saat dikonfirmasi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mengungkap kronologi lengkap kejadian serta pihak-pihak yang terlibat dalam dugaan pengeroyokan tersebut.
Pihak keluarga meminta agar pihak yang berwajib untuk cepat menindak lanjuti kasus ini.












